Oleh : Lailiyatun Nafiah

Dari sekian banyak nama desa di Kabupaten Gresik, ada salah satu nama desa dimana kita juga harus tahu mengenai sejarahnya. Nama desa itu adalah Desa Pongangan.

Pongangan, dhudhuk singkatan têko “opo-opo dipangan” lho yo… !! Pongangan adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Arané dèso iki termasuk unik soalé sakjané aran asliné dhudhuk Pongangan, tapi Pengungaan. Cik adoné bèdha jênêngé??? Selain itu, di desa ini juga terdapat sebuah tradisi yang cukup unik untuk diketahui yang bernama Rêbo Wêkasan. Namun mengenai tradisi ini, bisa kita ketahui di artikel-artikel berikutnya…

Ketika saya mencoba untuk menelisik lebih jauh mengenai asal-usul Desa Pongangan ini, saya bertemu dengan salah seorang warga Desa Sukorejo – Ngipik yang dulunya pernah tinggal dan besar di Desa Pongangan. Lha nyaopo éson sampèk ning daerah Ngipik barang??? Lha iku, aku di ajak karo konco-koncoku ning Telaga Ngipik sampèk akhiré ketemu karo Pak Nur Amin trus dadi ngomongné masalah Desa Pongangan…

Waktu itu, Pak Nur Amin yang berusia 78 tahun sedang menemani anak – cucunya untuk berlibur ke Telaga Ngipik dan secara tidak sengaja kami sempat ngobrol-ngobrol disana. Pak Nur Amin mengisahkan kalau beliau pernah tinggal dan tumbuh dewasa di Desa Pongangan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Mendengarkan tutur kisahnya yang cukup menarik, saya teringat untuk ikut menulisnya sebagai salah satu bentuk Kearifan Lokal Gresik.

Kala itu, beliau sangat antusias sekali untuk menceritakan tentang kehidupannya semasa di Desa Pongangan dan saya hanya mendengarkan penuturan beliau tanpa ingin menyelanya… Menurut beliau, Desa Pongangan awalnya bernama Pengungaan, namun beliau tidak bisa memastikan bagaimana nama desa itu berubah menjadi Pongangan. Lha aran têko Pengungaan iki iso diwêruhi dapurané opo’o kok dèso iki diarani Pengungaan, akèh versiné, tapi tetep aé, jênêngé aé kisah tuturé wong mbiyèn, yoo tak
rungokno aé dhisik…

Versi yang pertama menurut Pak Nur Amin, desa ini bernama Pengungaan karena dahulu
pada saat zaman kejayaan Sunan Giri di Gresik untuk menyiarkan Agama Islam, desa ini terlihat berada di lereng gunung Giri, karena pada waktu itu belum ada penambangan atau pengerukan batu secara besar-besaran seperti akhirakhir ini, sehingga struktur pegunungannya belum terpisah seperti sekarang. Sebelum Sunan Giri berangkat untuk menyiarkan Agama Islam, Sunan Giri selalu ngungak atau melihat keadaan sekitar Gresik dari Desa Pongangan ini. Karena dengan cara mengungak itulah, Sunan Giri bisa men-schedule-kan ke arah mana Beliau akan melangkahkan kaki terlebih dahulu. Karena selalu dijadikan daerah untuk mengungak itulah, konon akhirnya desa ini dinamakan dengan nama Desa Pengungaan, yang memiliki arti tempat untuk melihat.

Versi yang kedua menurut penuturan Pak Nur Amin, ada yang mengatakan bahwa nama Pengungaan itu sebenarnya masih berhubungan dengan kisah perjalanan dari utusan Siti Fatimah binti Maimun dalam menjalankan tugasnya untuk menyampaikan lamarannya ke Kerajaan Majapahit.

Jauh sebelum adanya Kerajaan Giri, utusan dari Siti Fatimah binti Maimun yang bernama Syekh Ja’far (salah satu murid dari Sunan Maulana Malik Ibrahim), Beliau diperintah untuk menuju Ke Majapahit guna menyampaikan lamaran dari Siti Fatimah binti Maimun dengan membawa dua buah delima sebagai mahar / hadiah, namun lamaran ini ditolak.

Lamaran tersebut akhirnya ditolak dikarenakan keluarga Kerajaan Majapahit merasa dihina dengan mahar yang diberikan oleh utusan dari Siti Fatimah binti Maimun, yaitu hanya berupa dua buah delima saja untuk melamar sang pangeran, padahal mereka tidak tahu bahwa sebenarnya buah delima tersebut berisi intan berlian.

Setelah lamaran tersebut ditolak, Syekh Ja’far pun kembali ke Desa Leran untuk menyampaikan hasil lamarannya kepada Siti Fatimah binti Maimun. Namun di tengah perjalanan, Syeh Ja’far tiba-tiba lupa dimana letak Desa Leran dan ke arah mana Beliau seharusnya meneruskan perjalanan agar sampai di Desa Leran.

Dalam perjalanan tersebut, akhirnya Beliau mencari tempat yang tinggi untuk mencari tahu keberadaan Desa Leran, hingga pada akhirnya Beliau sampai di sebuah desa yang dirasa cukup tinggi letaknya. Di desa tersebut, beliau mengungak-ungak atau melihat-lihat mencari keberadaan Desa Leran ketinggian desa yang dipijaknya kini. Karena menjadi tempat mengungak atau melihat itulah, pada akhirnya Syekh Ja’far menyebut desa ini sebagai Desa Pengungaan, yaitu tempat untuk mengungak atau melihat.

Sedangkan versi yang ketiga menurut penuturan Pak Nur Amin adalah desa ini dinamakan Desa Pengungaan karena desa ini dulunya merupakan tempat untuk mengungak bulan…
Mengungak bulan yang dimaksud disini adalah tempat para ulama atau kyai atau para ahli falah untuk melakukan rukyat atau melihat hilal dalam penentuan waktu berawal dan berakhirnya bulan Ramadhan.

Dari ketiga versi cerita tersebut, tidak bisa diketahui secara pasti mana yang lebih benar, namun menurut penilaian saya sepanjang mendengarkan penuturan Pak Nur Amin, hampir semuanya benar, karena ketiga versi tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mengungak atau mencari tahu tentang sesuatu, entah itu letak sebuah desa lainnya yang bisa terlihat dari ketinggian desa ini atau pun mencari tahu tentang keberadaan bulan secara lebih dekat untuk menentukan hilal.

Dari sebuah letak di ketinggian inilah, kita bisa mengetahui secara lebih jelas dimana kita berada, sehingga lebih memudahkan kita untuk melihat daerah sekitar. Dan dari sinilah, berawal kata Pengungaan yang pada akhirnya berubah menjadi nama Pongangan, sebuah desa di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Kemudian timbul pertanyaan di benak pembaca, apa hubungannya kata Pengungaan dengan Pongangan??? Bagaimana bisa namanya berubah dari Pengungaan menjadi Pongangan???

Nèk iku jaréné si Mbah, emang dasar ilaté wong Jowo sing gak gêlêm éwoh, moco huruf fa’ yo diwoco pa… Jênêngé Khumaida, yo dadi Kumaida. Syafi’ yo iso diwoco dadi Sapèk. Yo koyok ngono kuwilah ceritané aran Pengungaan dadi Pongangan, karena Pengungaan dianggap terlalu sulit untuk diucapkan sehingga oleh orang-orang jaman dulu diubah menjadi Pongangan…