Disuatu kota atau kecamatan di Indonesia seringkali dan hampir pasti ada suatu tempat yang disebut Aloen – Aloen. Seringkali juga orang yang mencari alamat bertanya : “Sebelah mananya Aloen Aloen???”. Juga acara acara penting seperti peingatan HUT atau Upacara Bendera diadakan di Aloen – Aloen.

Dari situ bisa disimpulkan bahwa Aloen – Aloen adalah suatu tempat yang wajib ada disuatu Kabupaten dan merupakan suatu tempat yang menjadi pusat sebuah Kota atau Kabuaten.

Menurut Van Romondt Aloen – Aloen merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam dan di buat oleh Fatahillah.

Foto Ilustrasi – Sumber By Google

Sedangkan menurut Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa Aloen – Aloen merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya Aloen – Aloen. Tetapi kalau adanya lahan terbuka yang dibiarkan tersisa dan berupa Aloen – Aloen, hal demikian bukan merupakan Aloen – Aloen yang sebenarnya. Jadi Aloen – Aloen bisa di desa, kecamatan, kota maupun pusat kabupaten.

Foto Ilustrasi – Sumber By Google

Pada zaman Hindu Budha Aloen – Aloen telah ada, asal usulnya ialah dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta izin kepada “dewi tanah”. Yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan “tanah sakral” yang berbentuk “persegi empat” yang selanjutnya dikenal sebagai Aloen – Aloen.

Menurut Kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca, disebutkan bahwa pada zaman Majapahit, Aloen – Aloen memiliki fungsi sakral dan fungsi profan. Yang dimaksudkan fungsi sakral adalah upacara-upacara religius dan penetapan jabatan pemerintahan. Sementara fungsi profan adalah untuk kegiatan pesta rakyat dan perayaan-perayaan tahunan. Ada dua Aloen – Aloen yang menjalankan kedua fungsi di atas yaitu Aloen – Aloen Bubat (menjalankan fungsi profan) dan Aloen – Aloen Wiguntur (menjalankan fungsi sakral)

Aloen – Aloen Watu Umpak Majapahit – Sumber Foto oediku.wordpress.com

Pola ini dilanjutkan baik dalam pemerintahan Mataram baik Yogyakarta maupun Surakarta yang memiliki dua Aloen – Aloen yaitu Aloen – Aloen Lor dan Aloen – Aloen Kidul. Di Aloen – Aloen Yogyakarta ditempatkan pohon beringin kembar yang dinamai Kyai Dewa Ndharu dan Kiai Jana Ndharu. Di zaman Mataram Islam ditambahkan keberadaan Masjid sebagai pengganti candi.

Pada Masa kerajaan Mataram, di Aloen – Aloen depan istana secara rutin rakyat Mataram “seba” menghadap Penguasa. Aloen – Aloen pada masa ini sudah berfungsi sebagai pusat administratif dan sosial budaya bagi penduduk pribumi.

  • Fungsi administratif: masyarakat berdatangan ke Aloen – Aloen untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat.
  • Fungsi sosial budaya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olahraga. Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan.
  • Pada masa ini Aloen Aloen Juga ditandai dengan adanya Dua Beringin Kembar
Foto Ilustrasi – Sumber Tropenmuzeum

Masa masuknya Islam, bangunan masjid dibangun di sebelah barat Aloen – Aloen. Aloen – Aloen juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Salat Idul Fitri. Pada saat ini banyak Aloen – Aloen yang digunakan sebagai perluasan dari masjid seperti Aloen – Aloen Kabupaten Gresik. Konsep Aloen – Aloen menurut Islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jamaah dan merupakan halaman depan dari keraton. Siar Islam telah membawa perubahan dalam perancangan pusat kota, sehingga Aloen – Aloen, keraton dan Masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya terdapat jalur transportasi.

IMAGE0229b copy

Aloen – Aloen Gresik di Tahun 1960-an

Pada periode berikutnya kehadiran kekuasaan Belanda di Nusantara, ikut memberi warna bentuk baru dalam tata lingkungan Aloen – Aloen. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada sisi lain Aloen – Aloen, termasuk di Aloen – Aloen Yogyakarta. Pendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan Belanda sekaligus mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat (penguasa pribumi).

Sumber lain menyebutkan Aloen – Aloen tidak hanya menjadi bagian dari sebuah keraton yang dikepalai oleh seorang raja melainkan oleh para bupati sebagai bawahan raja. Pemerintah kolonial Belanda dalam memerintah Nusantara selain menggunakan pejabat resmi seperti Gubernur Jenderal, Residen, Asisten Residen, Kontrolir dan sebagainya, juga menggunakan pejabat Pribumi untuk berhubungan langsung dengan rakyat, seperti Bupati, Patih, Wedana, Camat dan lainnya. Unsur pemerintahan Pribumi ini biasanya disebut sebagai Pangreh Praja (yang berkuasa atas kerajaan – orang Belanda memakai istilah Inlandsch Bestuur). Dalam sistem pemerintahan Inlandsch Bestuur pejabat Pribumi yang tertinggi adalah Regent atau biasa disebut sebagai Bupati, yang membawahi sebuah Kabupaten. Rumah Bupati di Jawa selalu dibangun untuk menjadi miniatur Kraton di Surakarta dan Yogyakarta. Di depan rumah Bupati juga terdapat pendopo yang berhadapan langsung dengan Aloen – Aloen, yang sengaja diciptakan oleh para Bupati untuk bisa menjadi miniatur dari Kraton Surakarta atau Yogyakarta[8].

Pendopo Aloen Aloen Gresik

Periode zaman kemerdekaan, banyak Aloen – Aloen yang berubah bentuk. Salah satunya Aloen – Aloen Malang. Faktor pendorong pertumbuhan ini macam-macam di antaranya kebijakan pemerintah, aktivitas masyarakat, Perdagangan dan Pencapaian (Dadang Ahdiat, 1993).

Fungsi Aloen – Aloen Jo Santoso dalam Arsitektur Kota Jawa: Kosmos, Kultur & Kuasa (2008), menjelaskan betapa pentingnya Aloen – Aloen karena menyangkut beberapa aspek. Pertama, alun-alun melambangkan ditegakkannya suatu sistem kekuasaan atas suatu wilayah tertentu, sekaligus menggambarkan tujuan dari harmonisasi antara dunia nyata (mikrokosmos) dan universum (makrokosmos). Kedua, berfungsi sebagai tempat perayaan ritual atau keagamaan. Ketiga, tempat mempertunjukkan kekuasaan militer yang bersifat profan dan merupakan instrumen kekuasaan dalam mempraktikkan kekuasaan sakral dari sang penguasa.

Penjelasan di atas tentu saja masih harus ditambahkan bahwa keberadaan Aloen – Aloen berfungsi pula sebagai ruang publik terbuka di mana rakyat saling bertemu dan fungsi pengaduan rakyat pada raja. Sebagai ruang publik, Aloen – Aloen adalah tempat pertemuan rakyat untuk bercakap-cakap, berdiskusi, melakukan pesta rakyat dll.

Romo Mudji Sutrisno dalam bukunya, Ruang Publik: Melacak Partisipasi Demokratis dari Polis sampai Cyberspace (2010) sebagai bentuk ruang publik yang telah mengalami pergeseran makna yang dahulunya adalah Aloen – Aloen.

Herry Priyono dalam bukunya Republik Tanpa Ruang Publik (2005) memberi peringatan akan dampak pergeseran makna Plaza yang semula adalah Aloen – Aloen sebagai aktivitas ruang publik yang dinamis sbb: “ketika ruang publik telah menjelma menjadi komoditas komersial suatu masyarakat, maka pemaknaan ‘kewarganegaraan’ sebagai makhluk sosial, telah berganti menjadi pemaknaan bahwa masyarakat itu adalah konsumen belaka”.

Sebagai tempat pengaduan rakyat, Aloen – Aloen berfungsi sebagai tempat curhat dan protesnya masyarakat terhadap sebuah kebijakan pemerintahan dalam hal ini raja atau istana. Di Aloen – Aloen Yogyakarta pada zaman kolonial, tepat di mana berdirinya wringin kurung (pohon beringin yang dibatasi pagar) jika seseorang mengalami keberatan atau sebuah kebijakkan maka mereka akan duduk bersila seharian di sana dengan menggunakan tutup kepala putih dan pakaian putih. Tata cara ini disebut dengan pepe. Jika raja melihat keberadaan orang tersebut maka raja akan memerintahkan untuk membawa orang tersebut menghadap dan mengadukan persoalannya secara langsung.

Dalam buku Tahta Untuk Rakyat dikatakan, “Adanya cara ber-pepe ini menunjukkan bahwa pada zaman dulu sudah ada forum untuk memperjuangkan hak asasi manusia sehingga jelas itu bukan barang baru atau barang yang diimpor dari negara lain”

Filosofi Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa Alun-alun memiliki makna sakral dan profan, maka keberadaannya tidak lepas dengan sejumlah filosofi dan makna yang terkandung di dalamnya.

Aloen Aloen Gresik

Begitu juga dengan Aloen – Aloen Gresik, meskipun belum diketahui pasti kapan tepatnya Aloen – Aloen Gresik mulai ada, namun dari beberapa data dan foto yang ada jelas terlihat Aloen – Aloen Gresik berubah mengikuti perkembangan jaman.

Awalnya Aloen – Aloen Gresik hanya merupakan sebuah tanah lapng yang ditumbuhi rumput dan disebelah baratnya terdapat Masjid Jami’

Seiring perkembangan jaman, perubahan dan fungsi Aloen – Aloen Gresik juga terjadi, pada masa Gresik dipimpin Bupati Poesponegoro Aloen – Aloen Gresik juga sebagai tempat latihan perang prajurit prajurit Gresik, bahkan ada sumber yang menceritakan sebuah meriam besar yang disebut Kyai Kalantaka ditempatkan disana. Bisa jadi aktivitas tradisi masyarakat dan hiburan juga dipusatkan di Aloen – Aloen

Dari segi Geografis Aloen – Aloen Gresik merupakan sebuah tanah lapang yang dikelilingi Bangunan pemerintahan dan Bangunan Religi. Hal ini terbukti dengan adanya Pendopo, Masjid, Gereja dan Klenteng. Dalam sebuah foto udara terlihat bahwa Gresik dulunya sentral masyarakatnya berada di Aloen – Aloen Gresik ke arah Utara dan Timur, untuk daerah Selatan dan Barat masih banyak lahan kosong, kecuali daerah Giri.

Hal ini menunjukkan bahwa Aloen – Aloen juga merupakan sebuah pusat dari sebuah Kota atau Kabupaten.

Mulai tahun 1950an Aloen – Aloen Gresik menjadi pusat segala aktivitas pemerintah dan masyarakat Gresik. Mulai dari Upacara 17 Agutus, hiburan rakyat, tempat nonkrong dan olahraga, hal ini terbukti dengan adanya Pagar Gawang Sepakbola.

Gresik 17 Agustus0004 copy

Copy of Gresik 17 Agustus0008 copy

Bahkan dibulan Romadlon masyarakat berbondong bondong datang di sore hari untuk melihat prosesi Nyumet Blanggur, sebuah mercon udara yang ditempatkan dalam sebuah pipa besar dari besi, jika blanggur berbunyi pertanda waktunya berbuka puasa tradisi ini masih ada sampai akhir tahun 1980-an

my pictures007 copy

Untuk pelaksanaan Sholat Idul Fitri dan idul Adha Aloen Aloen juga dimanfaatkan untuk menampung luapan masyarakat yang sholat.

IMAGE0229b copy

Bahkan untuk acara acara seperti Pasar Malam dan acara hiburan lainnya jg dipusatkan di Aloen Aloen Gresik

Acrobat 5 Juli 1b copy

Saya juga ingat Aloen – Aloen Gresik pada masa 1980-an jika siang dan sore hari sering dijadikan ajang untuk bermain sepakbola oleh anak anak selepas pulang sekolah. Permainan akan bubar jika kita sudah lelah atau jika muncul Wak Rebo yang biasa menakut nakuti anak anak saat itu, entah pekerjaan Wak Rebo itu apa tpi yang jelas beliau sering membawa Arit dan memangkas rumput di Aloen – Aloen Gresik.

Jika sudah bubar kita akan menuju kampung Pekauman sebelah Masjid Jami’, disitu ada warga yang berbaik hati menyediakan Kendi Kendi yang berjajar dan mempersilahkan semua orang meminumnya. Airnya sendiri dari air sumur yang rasanya tawar dan bening serta terasa segar.

Pada saat itu masih jarang orang berjualan, hanya ada deretan Warung Kopi di sebelah Timur Aloen – Aloen Gresik. Pada saat itu lebih banyak masyarakat yang bermain daripada para pedagangnya.

Lain dulu lain sekarang, saat ini Aloen – Aloen Gresik jika diperhatikan hampir separuh Aloen – Aloen dipenuhi para pedagang. Jika malam minggu jalanan sekitar Aloen – Aloen macet.

Diakui atau tidak kondisi Aloen – Aloen Gresik saat ini terlihat lebih ramai dari masa masa sebelumnya. Aloen – Aloen Gresik menjadi tujuan refreshing yang murah meriah dan disukai masyarakat. Mulai dari tempat bermain, penjual makanan dan pedagang lainnya ada di Aloen – Aloen Gresik

IMG_1051 (2) copy

IMG_1073 (3) copy

IMG_1064 copy

Pendapat masyarakat beragam mengenai hal ini, disatu sisi hal ini menghidupkan suasana Aloen – Aloen Gresik dan memberikan pemasukan tambahan untuk para pedagang dan mengurangi pengangguran, disisi lain Aloen – Aloen Gresik terkesan kumuh dan dijadikaan tempat berpacaran menambah daftar sisi negatifnya. Seringkali masyarakat yang keluar dari masjid menemui sepasang anak muda yang tanpa sungkan bermesraan di seberang Masjid, terkadang saat tengah malampun hal itu masih ditemui dan sayangnya tindakan antisipasi tidak rutin dilakukan.

Sumber foto Radar Gresik

Terlepas dari istilah “Proyek” pemerintah Gresik berencana membangun Islamic Centre yang rencananya akan dibangun di Aloen – Aloen Gresik, pemilihan lokasi memang tepat karena dekat dengan Masjid Jami’ Gresik dan makam Syech Maulana Malik Ibrahim tempat religi lainnya.

Rencana awal Islamic Centre Gresik dibangun di Empat Lokasi Gresik yaitu Kabupaten Gresik, Kec. Cerme, Kec. driyorejo dan kec. Sedayu. Hal ini menuai kontroversi karena biaya yang dikeluarkan tentunya akan sangat besar, untuk lokasi di kabupaten Gresik saja pemerintah menyiapkan anggaran 20 miliar, dan juga pendapat beberapa ahli yang menyatakan jika namanya Islamic Centre seharusnya cuma 1 lokasi saja, dimana semua informasi dan data terpusat disatu tempat.

Desain rencana pembangunan Islamic Centre di Aloen Aloen kabupaten Gresik – sumber kompas

Dari denah terlihat jika rencananya Islamic Centre akan dihubungkan dengan Masjid Jami’ Gresik, hal ini masih mendapatkan pertentangan dari pihak pengurus Masjid Jami’.

Entah bagaimana nanti kondisinya jika selesai dibangun Islamic Centre ini, yang jelas nilai nilai negatif yang selama ini ada akan berkurang atau hilang sama sekali, tentunya juga para pedagang, senyum tawa anak kecil yang berlarian, para lansia yang berolahraga di pagi hari akan hilang juga dari pandangan… Dan Aloen – Aloen Gresik akan kehilangan Jati Dirinya selama ini…

Jika sudah begitu tentunya akan dibutuhkan sebuah tempat lagi sebagai Aloen – Aloen Gresik untuk menggantikan fungsi dari Aloen -Aloen selama ini…. Terlepas dari Istilah “Proyek”

Akankah “ALoen – Aloen Gresik dipindahkan???”

Wassalam…

Sumber : Wikipedia, Radar Gresik, Jawa Pos, Old Foto Galery Andy Buchory, Tropenmuzeum, KITLV