<Kisah sebelumnya

Di tengah laut, bayi Raden Paku ditemukan oleh seorang saudagar kaya, yaitu Nyai Gede Pinatih. Oleh saudagar itu, Raden Paku diangkat ke atas kapal dan diasuhnya hingga dewasa. Setelah Raden Paku berumur 11 tahun, dia diantarkan Nyai Gede Pinatih untuk mempelajari Agama Islam secara mendalam di Pesantren Sunan Ampel. Tiga tahun telah berlalu sejak Raden Paku berguru pada Sunan Ampel. Maka setelah ilmu yang dipelajari terasa cukup, Sunan Ampel menyuruh Raden Paku untuk menemui ayahnya Syeikh Maulana Ishak di Pasai dan ditemani oleh Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang.

Di Pasai itulah, Raden Paku mengetahui semua rahasia mengenai ibu kandungnya, yaitu Dewi Sekardadu dan kekejaman kakeknya, yaitu Prabu Menak Sembuyu di Negeri Blambangan. Raden Paku yang mendengar hal itu merasa terkejut dan sedih karena tidak bisa bertemu ibu kandungnya. Setelah itu, Syeikh Maulana Ishak memberikan Raden Paku dan Sunan Bonang segumpal tanah yang berbeda, dimana kedua pemuda tersebut harus mencari daerah yang mempunyai kesamaan dengan tanah itu.

Berangkatlah Sunan Bonang dan Raden Paku untuk mencari daerah tersebut, yang pada  akhirnya Sunan Bonang menemukannya di daerah Tuban dan Raden Paku menemukannya di daerah perbukitan di Desa Sidomukti. Karena tempat tanah tersebut tinggi, maka tempatnya untuk mendirikan pesantren dinamainya Giri, yang dalam Bahasa Sansekerta artinya gunung. Raden Paku yang mendirikan pesantren tersebut akhirnya dinamai oleh masyarakat sekitar sebagai Sunan Giri.

Beberapa tahun berlalu hingga Sunan Giri mendirikan sebuah kerajaan di Giri, yaitu Giri
Kedaton dan daerah Giri lama-kelamaan menjadi pusat keramaian perdagangan.

Meskipun kehidupan Sunan Giri bisa dibilang telah mapan, namun dia masih teringat kabar ibu kandungnya, yaitu Dewi Sekardadu. Maka dengan kesaktiannya, dia mencari tahu keberadaan ibu kandungnya itu. Setelah berminggu-minggu bertapa, akhirnya dia mengetahui kabar bahwa ibunya telah tiada dan dimakamkan di daerah Blambangan.

Karena kecintaan dan kepatuhan Sunan Giri kepada ibu kandungnya, maka Kanjeng Sunan
Giri pun berniat untuk memindahkan makam Dewi Sekardadu ke daerah Giri agar lebih dekat. Sebelum melakukan niatnya itu, Sunan Giri berpesan pada istrinya, yaitu Dewi Murtasimah agar tidak diganggu pertapaannya selama 3 hari. Dewi Murtasimah menyanggupi perintah suaminya dan sejalan dengan itu, Sunan Giri memulai bertapa dengan berdzikir secara khusyu’.

Pada malam kedua saat Sunan Giri bertapa, terjadilah suara gemuruh di sekitar daerah Giri.Ternyata kesaktian Sunan Giri terbukti karena makam Dewi Sekardadu yang berada di daerah perbukitan gunung di Blambangan seluas 50 m2 secara gaib dipindahkan oleh Kanjeng Sunan Giri ke dekat Kerajaan Giri Kedaton dengan bantuan para jin yang mengawal kepindahan bukit tersebut.

2

Laa ilaha illallah…

Seperti itulah bunyi lafadz Allah yang didengungkan oleh jin yang mengabdi pada Kanjeng Sunan Giri dengan menggotong makam beserta gunungnya dari Blambangan.

Cungkup Makam Dewi Sekardadu

Dewi Murtasimah yang terkejut mendengar gemuruh suara yang begitu kencang, lupa akan pesan dari suaminya untuk tidak mengganggu pertapaannya selama 3 malam. Dia pun akhirnya masuk ke daerah pertapaan Sunan Giri dan membangunkannya. “Kanjeng Sunan, iku loh nang daerah Giri onok gunung gede seru mlaku apé mréné”, kata Dewi Murtasimah sambil membangunkan Sunan Giri dari pertapaannya. “Onok opo, Bu? Sampèan êroh dak? Iku ancèn éson sing mindah têko daerah Blambangan, soalé éson pingin cêdhêk karo makam Ibu éson, Dewi Sekardadu”, kata Sunan Giri memberi penjelasan pada istrinya.

Dengan dibangunkannya Sunan Giri, akhirnya makam Dewi Sekardadu yang semula oleh Sunan Giri ingin diletakkan dekat Kerajaan Giri Kedaton, berhenti di daerah Desa Ngargosari yang berjarak ± 1 km dari Giri Kedaton. Karena terbentuknya gunung baru di daerah Ngargosari seluas 50 m2 beserta makam Dewi Sekardadu, maka dari itulah daerah itu disebut Gunung Anyar. Kisah ini semakin menarik dengan adanya penuturan dari Bapak Abu Djakfar, seorang Modin dan Perangkat Desa Ngargosari yang berusia 61 tahun, yang éson wawancarai sebelumnya.

Angka Halaman 3

Pergi ke halaman

Angka Halaman 1Angka Halaman 2Angka Halaman 3Angka Halaman 4Angka Halaman 5Angka Halaman 6Angka Halaman 7Angka Halaman 8Angka Halaman 9Angka Halaman 10Angka Halaman berikutnya

 

 

Ikuti juga Lomba Fotografi yang bertemakan segala sesuatu yang berkaitan dengan Hari Kemerdekaan (Lomba Agustusan, Upacara Bendera, Karnaval dll). Kamera bebas, mulai dari kamera HP, Pocket, Action Camatau DSLR, yang penting momennya dapat. Caranya masuk ke link dibawah ini dan ikuti petunjuknya http://arekgresik.net/lomba-agustusan-2016/ atau langsung upload dan ikuti petunjuk di fb.me/arekgresiknet/lombafotoagustusan2016